Apa Kita Tahu

Membuka Jendela Menuju Dunia

SRIKANDI DARI JEPARA

 SRIKANDI DARI JEPARA

rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame

 

Dewi Srikandi merupakan sosok yang sudah tidak asing lagi bagi kita, dia menjadi suri tauladan sebagai seorang prajurit wanita pilih tanding. Dalam kisah pewayangan Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Bharatayuddha. Srikandi seorang iron woman, lambang keperkasaan wanita.

Apa kita tahu? Srikandi tidak hanya ada di epos pewayangan, pernah hidup seorang Srikandi di negeri ini. Seorang prajurit wanita pilih tanding dari Jepara bernama Ratu Kalinyamat. Sebenarnya Ratu Kalinyamat memiliki nama asli Retna Kencana, dia dipanggil Ratu Kalinyamat setelah pernikahannya dengan Pangeran Kalinyamat. Ratu Kalinyamat adalah puteri Sultan Trenggana, Raja Demak  tahun 1521-1546. Dia menjadi bupati di Jepara yang kemudian terkenal di kalangan Portugis sebagai sosok wanita pemberani.

Latar Belakang

Pangeran Kalinyamat, suami Ratu Kalinyamat berasal dari luar Jawa. Masyarakat Jepara menyebut nama aslinya adalah Win-tang, seorang saudagar Tiongkok yang mengalami kecelakaan di laut dan terdampar di pantai Jepara, kemudian dia berguru pada Sunan Kudus.

Menurut Wikipedia 2012, ada versi lain tentang Pangeran Kalinyamat ini. Dia bernama asli Pangeran Toyib, putera Sultan Mughayat Syah raja Aceh tahun 1514-1528. Toyib berkelana ke Tiongkok dan menjadi anak angkat seorang menteri bernama Tjie Hwio Gwan. Nama Win-tang adalah ejaan Jawa untuk Tjie Bin Thang, yaitu nama baru Toyib.

Win-tang dan ayah angkatnya kemudian pindah ke Jawa. Di sana Win-tang mendirikan desa Kalinyamat yang saat ini berada di wilayah Kecamatan Kalinyamatan, sehingga ia pun dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat. Ia berhasil menikahi Retna Kencana, putri Raja Demak, Sultan Trenggana. Di kemudian hari, Retna Kencana itu kemudian dijuluki Ratu Kalinyamat. Sejak menikahi Retna Kencana, Pangeran Kalinyamat menjadi anggota keluarga Kerajaan Demak dan memperoleh gelar Pangeran Hadiri.

Pangeran dan Ratu Kalinyamat memerintah bersama di Jepara. Tjie Hwio Gwan, sang ayah angkat, dijadikan patih bergelar Sungging Badar Duwung, yang juga mengajarkan seni ukir pada penduduk Jepara

Tragedi Pangeran Kalinyamat

Pada tahun 1549 Sunan Prawata raja keempat Demak mati dibunuh utusan Arya Penangsang, sepupunya yang menjadi bupati Jipang. Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus menancap pada mayat kakaknya itu. Maka, Pangeran dan Ratu Kalinyamat pun berangkat ke Kudus minta penjelasan.

Sunan Kudus adalah pendukung Arya Penangsang dalam konflik perebutan takhta sepeninggal raja Trenggana pada tahun 1546. Ratu Kalinyamat datang menuntut keadilan atas kematian kakaknya. Sunan Kudus menjelaskan semasa muda Sunan Prawata pernah membunuh Pangeran Sekar Seda Lepen ayah Arya Penangsang, jadi menurut Sunan Kudus wajar apabila searang dia sekarang mendapat balasan setimpal.

Ratu Kalinyamat kecewa atas sikap Sunan Kudus. Dia dan suaminya memilih pulang ke Jepara. Di tengah jalan, mereka dikeroyok anak buah Arya Penangsang. Pangeran Kalinyamat tewas.

Pembalasan Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat berhasil meloloskan diri dari peristiwa pembunuhan itu. Dia kemudian bertapa telanjang di Gunung Danaraja, dengan sumpah tidak akan berpakaian sebelum berkeset kepala Arya Penangsang, pembunuh suaminya.

Ratu Kalinyamat berharap adik iparnya, yaitu Hadiwijaya, bupati Pajang untuk membalaskan dendamnya. Ratu Kalinyamat mendesak Hadiwijaya agar segera membunuh Arya Penangsang. Dia sebagai pewaris takhta Sultan Trenggana, berjanji akan menyerahkan Demak dan Jepara jika Hadiwijaya berhasil menumpas Arya Penangsang.

Hadiwijaya sebenarnya segan apabila harus menghadapi Arya Penangsang secara langsung karena mereka masih sama-sama anggota keluarga Kerajaan Demak. Akhirnya untuk memenuhi harapan Ratu kalinyamat, Hadiwijaya kemudian mengadakan sayembara yang berhadiah tanah Mataram dan Pati. Sayembara itu kemudian dimenangi oleh Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Arya Penangsang berhasil tewas dalam sebuah pertempuran di tangan Sutawijaya putra Ki Ageng Pemanahan, dibantu ahli siasatnya bernama Ki Juru Martani.

Kebangkitan Ratu Kalinyamat

Ratu Kalinyamat kembali menjadi bupati Jepara. Setelah kematian Arya Penangsang tahun 1549, wilayah Demak, Jepara, dan Jipang menjadi bawahan Pajang yang dipimpin raja Hadiwijaya. Meskipun begitu, Hadiwijaya tetap memperlakukan Ratu Kalinyamat sebagai tokoh senior yang dihormatinya.

Pertempuran Pertama Melawan Portugis

Ratu Kalinyamat sebagaimana Pati Unus, bupati Jepara sebelumnya memiliki sikap anti terhadap Portugis yang saat ini tengah menduduki Malaka. Kemudian pada tahun 1550, Ratu Kalinyamat mengirim 4.000 tentara Jepara dalam 40 buah kapal memenuhi permintaan sultan Johor untuk membebaskan Malaka dari kekuasaan bangsa Eropa itu.

Pasukan Jepara itu kemudian bergabung dengan pasukan Persekutuan Melayu hingga mencapai 200 kapal perang. Pasukan gabungan tersebut menyerang dari utara dan berhasil merebut sebagian Malaka. Namun Portugis berhasil membalasnya. Pasukan Persekutuan Melayu dapat dipukul mundur, sementara pasukan Jepara masih bertahan.

Baru setelah pemimpinnya gugur, pasukan Jepara ditarik mundur. Pertempuran selanjutnya masih terjadi di pantai dan laut yang menewaskan 2.000 prajurit Jepara. Badai datang menerjang sehingga dua buah kapal Jepara terdampar kembali ke pantai Malaka, dan menjadi mangsa bangsa Portugis. Prajurit Jepara yang berhasil kembali ke Jawa tidak lebih dari setengah dari yang berhasil meninggalkan Malaka.

Pertempuran Melawan Portugis Terus Berlanjut

Ratu Kalinyamat tidak pernah jera. Pada tahun 1565 ia memenuhi permintaan orang-orang Hitu di Ambon untuk menghadapi gangguan bangsa Portugis dan kaum Hative.

Pada tahun 1564, Sultan Ali Riayat Syah dari Kesultanan Aceh meminta bantuan Demak untuk menyerang Portugis di Malaka. Saat itu Demak dipimpin seorang bupati yang mudah curiga, bernama Arya Pangiri, putra Sunan Prawata. Utusan Aceh dibunuhnya. Akhirnya, Aceh tetap menyerang Malaka tahun 1567 meskipun tanpa bantuan Jawa. Serangan itu gagal.

Pada tahun 1573, sultan Aceh meminta bantuan Ratu Kalinyamat untuk menyerang Malaka kembali. Ratu mengirimkan 300 kapal berisi 15.000 prajurit Jepara. Pasukan yang dipimpin oleh Ki Demang Laksamana itu baru tiba di Malaka bulan Oktober 1574. Padahal saat itu pasukan Aceh sudah dipukul mundur oleh Portugis.

Pasukan Jepara yang terlambat datang itu langsung menembaki Malaka dari Selat Malaka. Esoknya, mereka mendarat dan membangun pertahanan. Tapi akhirnya, pertahanan itu dapat ditembus pihak Portugis. Sebanyak 30 buah kapal Jepara terbakar. Pihak Jepara mulai terdesak, namun tetap menolak perundingan damai karena terlalu menguntungkan Portugis. Sementara itu, sebanyak enam kapal perbekalan yang dikirim Ratu Kalinyamat direbut Portugis. Pihak Jepara semakin lemah dan memutuskan pulang. Dari jumlah awal yang dikirim Ratu Kalinyamat, hanya sekitar sepertiga saja yang tiba di Jawa.

Meskipun dua kali mengalami kekalahan besar, namun Ratu Kalinyamat telah menunjukkan bahwa dirinya seorang wanita yang gagah berani. Bahkan Portugis mencatatnya sebagai rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame, yang berarti “Ratu Jepara seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani”.

 

 

 

Tinggalkan komentar »

Kamikaze, Tsunami Ganda Jepang Yang Menghancurkan Pasukan Mongol

Kamikaze, Tsunami Ganda Jepang Yang Menghancurkan Pasukan Mongol

Apa Kita Tahu, Tsunami yang merupakan fenomena alam paling ditakuti di berbagai daerah kepulauan dan pantai di dunia pernah menjadi pelindung bangsa Jepang dari invasi pasukan Mongolia?

Peristiwa tersebut terjadi dua kali yaitu pada tahun 1274 dan 1281 M. Seperti kita tahu Kekaisaran Mongolia adalah kekaisaran terkuat di dunia pada 1206–1368 M. Pasukan Mongol adalah pasukan terkuat yang melakukan penaklukan ke berbagai penjuru dunia, dari Asia hingga Eropa.

Salah satu wilayah yang telas dari incaran Kekaisaran Mongol adalah Jepang. Invasi ini berlangsung hingga dua kali. Invasi pertama dilakukan pada tahun 1274 dimana pasukan Mongol yang dikirim ke Jepang itu berupa gabungan dari tentara Mongolia sendiri dan budak-budak dari China dan Korea. Mereka mendarat di teluk Hakata. Ribuan pasukan yang berangkat dari Pusan, Korea melewati pulau Tsushima dan Iki dengan mudah. Namun pada saat mereka hendak mencapai Jepang, mereka diserang oleh badai Tsunami yang menghancurkan sebagian besar pasukan serta logistik. Pasukan yang mendarat di teluk Hakata tidak memiliki pangan dan senjata yang cukup untuk melawan pasukan Jepang. Mereka berhasil dihancurkan oleh pasukan Jepang.

Kaisar Jepang memerintahkan pasukan China untuk dibebaskan karena mereka adalah penduduk dari Tang yang mana kerajaan China pada zaman Dinasti Tang memiliki hubungan baik dengan Jepang. Sedangkan pasukan yang berasal dari Mongolia dan Korea semuanya dieksekusi mati.

Pada tahun 1281 invasi kedua dilancarkan. Ratusan ribu pasukan Mongol mendarat untuk kedua kalinya di Jepang. Pasukan Jepang saat itu tidak mengerti dengan taktik perang Mongol. Menurut tradisi Jepang, sebelum perang dimulai mereka harus mengadakan duel satu lawan satu antar panglima diatas kuda untuk mengukur kekuatan dan semangat lawan. Namun pada saat itu, tidak ada orang yang bisa berbicara bahasa Mongol dari jajaran pasukan Jepang begitu pula dari pasukan Mongol, mereka tidak mengerti bahasa Jepang. Alhasil pada saat tantangan duel diteriakkan, ribuan pasukan Mongol maju menyerang secara serentak dan membabi buta. Pasukan Samurai juga menderita oleh serangan Mongol yang berupa hujan anak panah. Secara tradisi pasukan Samurai berperang dengan memanah musuh secara akurat, berbeda dengan pasukan Mongol yang memanah musuh secara membabi buta dan dengan jumlah yang besar.

Pasukan Mongol juga menggunakan “senjata guntur” yaitu semacam bom untuk menghancurkan jajaran pasukan Samurai. Senjata guntur itu pertama kali diciptakan oleh kerajaan China. Senjata itu terbuat dari tanah liat dan dengan bentuk bola yang besar. Di dalam tanah liat tersebut diisi penuh dengan bubuk mesiu. Kemudian bola tanah liat itu diikat dengan tali dan diayukan kearah musuh. Ledakan bola tanah liat itu bagaikan guntur dan menakuti jajaran pasukan samurai dan kuda-kuda yang mereka tunggangi.

Setelah perang dimenangkan, ratusan ribu pasukan Mongol kembali ke perkemahan mereka di daerah pantai serta membakar desa-desa disekitarnya. Pada malam harinya kembali terjadi bencana Tsunami seperti satu dekade sebelumnya yang menghancurkan perkemahan mereka serta kapal-kapal mereka. Bahkan kali ini Tsunami itu disebut sebagai Tsunami ganda yang lebih parah dengan apa yang terjadi pada tahun 1274. Tsunami ganda tersebut dinamakan Kamikaze, yang kemudian nama itu digunakan oleh kerajaan perang sebagai kode tempur dalam perang pasifik pada perang dunia ke 2.

Akhirnya pasukan Mongol yang tersisa sedikit kemudian dihancurkan oleh pasukan Jepang. Hal itu menandakan akhir invasi Mongol ke Jepang.

Beberapa ahli sejarah (dalam wikipedia,2012) mengatakan bahwa kaisar Jepang akhirnya mengakui kedaulatan Mongol serta mengirimkan upeti, hal itulah yang membuat Kubilai Khan puas dan tidak melakukan invasi untuk ketiga kalinya.

Tinggalkan komentar »

Wilayah Yang Gagal Ditaklukan Mongol

Kekaisaran Mongolia adalah kekaisaran terbesar dan terkuat di dunia pada masanya, tahun 1206–1368 M. Mongolia bahkan tercatat sebagai kekaisaran terbesar kedua dalam sejarah dunia, menguasai kurang lebih 33 juta km² di masa keemasannya. Pada saat itu jumlah penduduknya mencapai di atas 100 juta orang.

Menurut ahli sejarah barat R.J. Rummel dalam wikipedia, diperkirakan sekitar 30 juta orang terbunuh dibawah pemerintahan Kekaisaran Mongolia dan sekitar setengah jumlah populasi Tiongkok habis dalam 50 tahun pemerintahan Mongolia.

Pasukan Mongol merupakan pasukan terkuat sepanjang sejarah, melibas berbagai bangsa dari Asia hingga Eropa. Di era keemasannya, hampir tidak ada satu pun pasukan yang mampu membendung kekuatan mereka.

Hanya ada dua kekuasaan yang pernah mampu menggagalkan penaklukan Kekaisaran Mongolia. Apa Kita Tahu, dua kekuatan dari mana yang mampu membendung pasukan Mongol tersebut?

  1. Mesir, Dinasti Mameluk. Mereka berhasil mengusir dan menghancurkan tentara Mongol pada masa pemerintahan Hulagu Khan bahkan mereka terus mendesak mongol hingga keluar dari Damaskus, Syria.  Kekalahan Pasukan Mongol tersebut terjadi dalam sebuah perang terkenal yang disebut Pertempuran Ain Jalut (atau Ayn Jalut dalam bahasa Arab : عين جالوت yang artinya Mata Jalut). Peristiwa terjadi pada tanggal 3 September 1260 di Palestina antara Bani Mameluk (Mesir) yang dipimpin oleh Qutuz dan Baibars berhadapan dengan tentara Mongol pimpinan Kitbuga. Pertempuran ini termasuk salah satu pertempuran yang penting dalam sejarah penaklukan bangsa Mongol di Asia Tengah dimana mereka untuk pertama kalinya mengalami kekalahan telak dan tidak mampu membalasnya dikemudian hari seperti yang selama ini mereka lakukan jika mengalami kekalahan. Pasukan berkuda Mameluk secara signifikanberhasil mengalahkan pasukan berkuda Mongol yang belum pernah terkalahkan sebelumnya.Pertempuran tersebut terjadi di Ain Jalut pada tanggal 3 September dengan kekuatan yang hampir sama yaitu ± 20.000 tentara. Taktik yang dipakai oleh panglima Baibars dari Mameluk adalah dengan memancing keluar pasukan berkuda Mongol yang terkenal hebat sekaligus kejam kearah lembah sempit sehingga terjebak baru kemudian pasukan kuda mereka melakukan serangan balik dengan kekuatan penuh yang sebelumnya memang sudah bersembunyi di dekat lembah tersebut. Akhirnya taktik ini menuai sukses besar. Pihak Mongol terpaksa mundur dalam kekacauan bahkan panglima perang mereka, Kitbuqa berhasil ditangkap dan dieksekusi.
  2. Jawa (indonesia). Penaklukan Kekaisaran Mongolia gagal akibat disiasati dan diusir oleh Raden Wijaya dari Kerajaan Singhasari, yang kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit yang kelak menjadi kerajaan terbesar di Asia Tenggara. Peristiwa itu berawal di akhir tahun 1292 ketika pasukan Mongol mulai dikirim untuk melakukan penaklukan ke Jawa, karena duta besar mereka dipermalukan oleh kerajaan Singhasari di bawah rajanya Kertanegara. Kerajaan Singhasari yang merupakan kerajaan terkuat di Asia Tenggara saat itu menolak takluk kepada Mongol, bahkan melukai dan memotong telinga utusan Mongol. Pada tahun 1293 angkatan perang tersebut mendarat di Rembang dan mulai melaju ke arah Jawa Timur. Pada saat mereka tiba, Jawa telah dipenuhi dengan kehancuran yang diakibatkan oleh perang saudara, jauh sebelum angakatan perang Mongol tersebut tiba. Kerajaan Singhasari sendiri sudah jauh hari dihancurkan oleh Kerajaan Kediri. Pasukan Mongol yang tidak tahu apa yang harus mereka perbuat itu disiasati oleh Raden Wijaya, sebagai penerus Singhasari untuk membantunya berperang melawan kerajaan Kediri. Raja Jayakatwang  dari Kediri akhirnya tertangkap, dan Raden Wijaya mendirikan kerajaan yang diberi nama Majapahit. Namun ternyata diluar dugaan Pasukan Mongol, Pasukan Mongolia kemudian diserang oleh Raden Wijaya sendiri dan diusir dari Jawa. Panglima Mongol, Ike Mese, yang sudah kehilangan lebih dari 3000 tentara akhirnya memutuskan untuk pulang ke Mongolia dengan berbekal emas, budak dan hasil rampasan perang lainnya dari Kediri. Namun setelah ia kembali, Kubilai Khan menjadi marah besar setelah mendengar kegagalan ekspedisinya. Panglima tersebut diberi hukuman 16 cambukan dan setengah dari kekayaannya disita kerajaan.
Tinggalkan komentar »

Kerajaan Tertua di Indonesia

Apa kita tahu kerajaan mana yang tertua di Indonesia?

Tentu kita masih ingat, dulu ketika masih duduk di bangku sekolah, guru sejarah kita menyebutkan bahwa kerajaan tertua di Indonesia adalah Kutai. Kutai Martadipura, sebuah kerajaan besar yang berdiri di abad keempat. Namun sebenarnya pada awal abad ke dua, telah berdiri sebuah kerajaan di barat pulau Jawa. Konon, kerajaan inilah yang disebut Argyre oleh Ptolemeus. Claudius Ptolemaeus seorang ahli geografi, astronom, dan astrolog  yang hidup pada zaman Helenistik di provinsi Romawi, Aegyptus.

Salakanagara, berdasarkan Naskah Wangsakerta – Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara (yang disusun sebuah panitia dengan ketuanya Pangeran Wangsakerta) diperkirakan merupakan kerajaan paling awal yang ada di Nusantara).

Nama ahli dan sejarawan yang membuktikan bahwa tatar Banten memiliki nilai-nilai sejarah yang tinggi, antara lain adalah Husein Djajadiningrat, Tb. H. Achmad, Hasan Mu’arif Ambary, Halwany Michrob dan lain-lainnya. Banyak sudah temuan-temuan mereka disusun dalam tulisan-tulisan, ulasan-ulasan maupun dalam buku. Belum lagi nama-nama seperti John Miksic, Takashi, Atja, Saleh Danasasmita, Yoseph Iskandar, Claude Guillot, Ayatrohaedi, Wishnu Handoko dan lain-lain yang menambah wawasan mengenai Banten menjadi tambah luas dan terbuka dengan karya-karyanya dibuat baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Tinggalkan komentar »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.